Serba serbi

Juli 6, 2008

The School Is My Second Home

And My Job (as a teacher) Is My Second Husband Or Family

 

            Ungkapan di atas merupakan suatu hal yang sangat melekat pada diri saya. Tak heran kalau salah seorang  rekan saya guru Bahasa inggris mengatakan bahwa saya terlalu memikirkan  karir yang menurutnya itu adalah suatu pembodohan. Menurutnya hidup ini yang penting adalah bagaimana kita selagi masih bisa dan mampu mengumpulkan uang untuk masa depan anak-anak dan juga masa tua kita. Apalah artinya karir ataupun jabatan kalau tidak sesuai dengan money yang kita terima.

Tapi sebetulnya saya menjalani hidup ini seperti air mengalir,  saya hanya menjalankan tugas sesuai dengan amanah yang telah diletakkan di pundak saya. Tidak pernah terpikir oleh saya untuk menduduki suatu jabatan apalagi sampai ambisi sekali bahkan sampai menghalalkan segala cara. Hanya satu hal yang selalu saya usahakan untuk mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya dan memberikan kepuasan pada semua orang. Saya tahu bahwa banyak  kekurangan  yang saya miliki dan saya harus berusaha meminimalisir kekurangan tersebut dengan selalu berkarya dengan sebaik-baiknya.

            Bidang profesi saya adalah mencetak anak bangsa yang merupakan aset negara dan aset dunia maupun akhirat bagi orangtunya. Saya pikir saya terlalu berani untuk memutuskan menjadi seorang guru, dengan kemampuan saya yang sangat minim kecerdasan yang hanya sedang-sedang saja, sedangkan bidang profesi tersebut sangat berat, memberi warna pada generasi ini dengan taruhan kelangsungan dari NKRI.

            Dua puluh tujuh tahun saya bergelut dengan dunia pendidikan, wajah para siswa silih berganti setiap tahun. Saya mencintai profesi saya, dan karena kebutuhan pasar dan desakan era globalisasi mengharuskan saya untuk meningkatkan kualitas diri, dan saya pikir seorang guru memang harus meng up date dirinya agar tidak ditinggal zaman.

Banyak waktu saya habiskan untuk urusan pekerjaan  sebagai guru. Untungnya sang suami juga berprofesi sama dengan saya dan mempunyai persepsi yang sama. Jadinya kami enjoy dengan keadaan kami sekarang  

 

 

MELAWAT KE NEGERI KUALA LUMPUR

 

Pada tanggal 19 Mei 2008 beserta rombongan Sekolah Dasar Negeri 3 Pangkalpinang mengunjungi kuala Lumpur Malaysia. Saya bertekad untuk ke sana untuk merintis kerjasama dengan sekolah yang ada di Kuala Lumpur dalam hal pendidikan.

Hari pertama menngunjungi Sekolah Kebangsaan Malaysia, sekolah dasar negeri yang termasuk baik dan merupakan anak dari Microsoft.

Kelulusan Siswa kelas IX SMP Negeri 2 Pangkalpinang

Juni 20, 2008

Hasil Keputusan Rapat SMP Negeri 2 Pangkalpinang Tahun 2007/2008 sebagai berikut

Setelah mengadakan rapat sekitar 30 menit maka diputuskan :

Dari 197 siswa SMP Negeri 2 Pangkalpinang terdapat 190 siswa yang lulus dan yang belum lulus sebanyak 7 orang. Persentase kelulusan 96,445 %, ada peningkatan sekitar 3,63 %.

Nilai tertinggi diperoleh Aulia dengan jumlah 35,80, kedua Bella dengan jumlah 35,05, dan finda 34,20

Selamat kepada sang juara semoga untuk yang akan datang kalian lebih berpresatasi lagi.

Selain itu kabar baik untuk warga SMP N 2 pkp dengan diperolehnya Juara Umum I PORSENI tingkat Kota dan Juara I dan juara IV Cepat Tepat yang diselenggarakan oleh Honda dan Pink Cafe. Selamat dngan perolehan uang tiga juta dan seperangkat komputer.

Kepada seluruh siswa mari kita terus berpacu dan bawa kemenangan ke SMP Negeri 2 Pangkalpinang

Kursus Internet Kilat di SMP N2 PKP

Juni 19, 2008

Pada tanggal 14 Juni 2008 di SMP Negeri 2 Pangkalpinang telah dilaksanakan pelatihan internet kilat.

Dalam waktu  2 jam para peserta (guru-guru) harus bisa menyerap ilmu yang ditransfer oleh seorang dosen Universitas Indonesia Bapak Sopian Jonathan. Rupanya asyik juga belajar sambil berlari-lari. Singkat tapi padat itulah yang terkesan dari  sang dosen. Para peserta yang   bak kapilah di gurun pasir yang disiram dengan segayung air, tentu saja merasa penasaran dengan perkenalan dengan dunia maya yang hanya dua jam tersebu, tidak heran sekarang ini terlihat di tengah-tengah kesibukan para guru bergelut dengan nilai-nilai siswa , masih menyempatkan diri bermain di internet ada yang mencari bea siswa S2, info pendidikan, entang koleksi bung dan mungkin ada juga yang mencari pasangan hidup bagi yang masih single. untungnya Dinas Pendidikan di Pangkalpinang telah memberikan internet gratis ke sekolah-sekolah ( Kalau tidaka kepala sekolah jadi pusing cari dana buata bayar PT Telkom). Terimaskih kepada Pak Edison Taher selaku kepala Dinas Pendidikan dan juga Bapak Zulkarnain Karim selaku walikota yang sangat mensuport pendidikan di Pangkalpinang.

Guru adalah aset yang sangat berharga untuk kemajuan pendidikan, karena itu perlu di pelihara agar tetap bernilai dan tentu saja untuk memilki nilai jual yang tinggi harus di up date. dunia internet adlah salah satu solusinya. Terimakasih kepada Pak Sopian, sukses terus untuk Bapak dan semoga tetap bersedia membagi ilmunya untuk kami.

Sekolah gratis tidak memintarkan siswa

Juni 19, 2008

Naas dunia pendidikan sekarang telah dicemari dengan kepentingan politik dengan mengumandangkan “istilah sekolah gratis”. Padahal kita tahu bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang sedang berkembang, “bak gadis yang sedang kemayu kemerah-mearahan” dengan berbagai permasalahannya dalam emosional yang belum begitu stabil.

Apakah pemerintah siap memenuhi 8 standar yang telah diluncurkan BNSP? Pemenuhan 8 standar yang tentu saja memrlukan biaya yang tidak sedikit. Jujur saja kita tidak usah bermimpi terlalu muluk untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokok sarana pendidikan saja, beberapa daerah kewalahan, dan sesuai dengan UU No 20 tentang sisdiknas bahwa pendidikan merupakan tanggungjawab pemerintah, masyarakat dan orangtua siswa.

Gratis yang telah ditetapkan oleh kepala daerah di daerah tertentu mengurangi kreatifitas sekolah-sekolah. Memang betul pendidikan (sekolah) dapat dilaksanakan dengan biaya murah, bahkan tanpa gedungpun dapat dilaksanakan. Namun tentu saja hasilnyapun akan sangat berbeda dengan sekolah yang dilaksankan dengan fasilitas yang lengkap dengan teknologi yang canggih. Tentang pembiayaan bisa diprogramkan dengan subsidi silang. Artinya gratis bagi yang tidak mampu, dan bagi yang mampu dengan partisipasi yang bergam sesuai dengan kemampuan. Seorang anak konglomerat tentu saja tidak tega anaknya diajarkan dengan menggunakan kapur tok !

Lalu kenapa para kepala daerah jadi repot dengan adanya orangtua siswa/masyarakat yang mau berpartisipasi dengan biaya pendidikan ???

Hello world!

Juni 14, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.